Menggunakan Otak Secara Maksimal

Bagaikan sebuah kincir angin yang menyedot sumber teanga dari udara sekitarnya yang bergrak, maka anda pun dapat mengingatkan otak anda untuk menghimpun gagasan dari mana saja. Kemudian alihkanlah proses pemikiran anda itu ke dalam kegiatan kerja yang nyata. Berusahalah mencapai kadar jumlah yang sebanyak mungkin lebih dahulu, dan biarkanlah reaksi penuh daya cipta dalam diri anda itu bekerja lebih giat dalam diri anda untuk mencapai satu keimpulan.
Bersikaplah selalu ingin tau. Berhenti sebentar, menengok, dan mendengarkan, kemudian ajukanlah pertanyaan. Bersikaplah teliti. Jangan sampai anda melewatkan suatu di lingkungan anda tanpa di manfaatkan. Temukanlah di mana letaknya kegiatan itu, kemudian himpunlah gagasan itu. Bersikaplah tahan uj. Jadikanlah pencetusan gagasan itu sebagai projek yang memakan waktu penuh bagi anda. Sediakanlah selalu kertas dan pinsil di tangan atau dalam tas anda sehingga pada setiap saat anda dapat mencatat gagasan-gagasan yang muncul sewaktu-waktu.
Terapkanlah gagasan anda itu kamana saja anda pergi bila mungkin. Jangan tumpukan gagasan itu jadi barang penghiasmap atau benda arssp semata-mata. Mulailah anda menghimpunnya dan menerapkannya terhadap masalah-masalah yang anda hadapi. Jelmakanlah gagasan-gagasan lamake dalam gagasan-gagasan baru. Gagasan yang kecil robahlah ke dalam gagasan besar.
Untuk melihat bagaiman sistim kincir anginini bekerja, marilah kita tinjau riwayat hidup Howard Landis.
Oleh karena kesulitan keuangan pihak keluarganya maka Howard tidak sempat menyelesaikan pelajaranya di sekolah menengah. Ia telah kawin dalam usia muda. Oleh sebab itu ia terpaksa mencari pekerjaan meskipun dengan bayaran rendah. Ia bekerja pada sebuah perusahaan besar. Ia kurang begituh di senangi oleh pihak atasannya oleh karena ia terlampau bersifat ingintau dan suka masuk campur dalam urusan segala-galanya. Ia suka sekali mengajukan pertanyaan, mengapa begini dan begitu, di dalam setiap tugas yang diberikan kepadanya. Di tidak hanya mengerjakn tugas itu begitu saja sebagaiman adanya. Melaikan ia melakukan tantangan terhadap kegiatan rutin, pikirannya berbikir bagaiman mengadakan perobahan dan kemajuan dalm tugas itu. Bahakan kadang-kadang sampai menyentuh soal sistim itu sendiri. Ia tak mau mengerjakan sesuatu projek sampai tuntas sebelum ia yakin betul bagaimana caranya ia bisa merampungkanya dengan jalan yang seefektif dan efisien mungkin.

Pada waktu jam istirahat makan Howard memanfaatkan kesempatan untuk menemui orang-orang dari bagian lain di perusahaan itu. Ia mengajukan pertanyaan tentang pekerjaan mereka, produksi perusahaan itu, bagaimana pemasaranya, dan segala apa saja yang ai anggap menarik perhatianya.

Pihak atasanya makin lama makin menjadi bosan dengan sikapnya yang banyak suka banyak bertanya bagaimana cara melakukan,mengapa demiakian, kapan harus dikerjakan dan diselesaikan, dan apa yang patut ditempuh jika sekiranya terjadi begini dan begitu. Howard mulai memanfaatkan waktu senggang selama istirahat makan itu dengan jalan mengumpulkan bahan informasi, melancarakan gagasan baru dan melakukan penemuan baru sehubungan dengan hasil produksi perusahaan itu, tatkala majikannya menemukan fakta ini, ia menjadi naik pitam. Akan tetapi oleh karena gagasan itu telah di terapkan dalam perkembangan tugas, maka ia alihkan pelaksanaan pada bagian pengembangan usaha dalam lingkungan perusahaan itu. Gagasan itu dapat di terima oleh pihak departemen pengembangan usaha itu dan mereka malah meminta agar Howard dipinahkan tugasnya ke dalam bagian itu.
Sekarang ini Howard
[baca selengkapnya..]

Pengertian Definisi Perincian Sabar Dalam Terminologi Qur'an

Menurut al-Ghazali yang dinamakan “sabar” ialah meninggalkan segala macam pekerjaan yang digerakkan oleh hawa nafsu, tetap pada pendirian agama yang mungkin bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semata-mata karena menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bahwa sabar itu merupakan jihad/perjuangan untuk menghadapi hawa nafsu untuk kembali pulang kepada Tuhan.

Dalam menghadapi keadaan seperti itu, maka sifat sabar menjadi berat. Firman Allah dalam Qur’an (S. Al-Baqarah 45, 46).
45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',
46. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Maka demikian beratnya sifat sabar itu, sehingga merupakan sesuatu sifat yang istimewa yang hanya dapat dikerjakan bagi orang-orang yang khusyu’. Dan orang khusyu’ itulah yang benar-benar mempunyai keyakinan yang kuat, niat yang ikhlas, ittikad baik tujuan yang benar dan dengan penuh kesabaran mereka mentaati peraturan agama berupa perintah atau larangan, dengan rasa berkewajiban morel dalam melaksanakannya dan menyelesaikannya.

Ahli filsafat mengatakan: Bahwa dengan Ilmu saja tidak cukup untuk meletakkan dasar yang utama bagi sesuatu kelebihan. Tanpa kesabaran tak akan dapat mentaati suatu peraturan berupa perintah atau larangan agama. Namun tahu betul-betul bahwa ma’siat itu larangan, kebajikan itu suruhan, jika tidak dengan kesabaran, tidak mungkin dapat dikerjakan. Oleh karena itu kaum Shufi memberi perincian tentang “sabar” sebagai berikut:

a. Sabar disiplin/taat.

Manusia yang tersendiri menghadapi banyak pengawasan atas dirinya dalam suatu tugas kewajiban, oleh karena itu maka taat dalam sesuatu tugas kewajiban sifat sabar menjadi penolong dan pengawas utama.

Dalam pada ini kaum sufi tentang sabar mempunyai tiga keadaan:

Pertama : sabar sebelum taat ialah niat yang ikhlas, tujuan yang benar, merasa berkewajiban atas keyakinan agama dalam menerima peraturan berupa perintah atau larangan.

Kedua : sabar melaksanakan taat ialah melaksanakan kewajiban sampai selesai, berkala atau terus menerus dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan.

Ketiga : sabar setelah taat ialah tidak merasa bangsa dengan selesainya pekerjaannya, tidak iri hati atas kekurangan atau kelebihan orang lain, tidak ria untuk dikagumi hasil usahanya.

b. Sabar berkewajiban:

Mengetahui sesuatu kewajiban saja tidak cukup untuk dapat dikerjakan tanpa adanya kesabaran dan sebaliknya mengetahui sesuatu larangan belum tentu dapat meninggalkannya tanpa adanya kesabaran.

Misalnya dalam melaksanakan ibadat seperti: shalat, puasa, zakat dan Haji sangat memerlukan kesabaran. Mengerjakan shalat 5 kali sehari adalah mendidik diri pribadi membiasakan “sabar” menjadi kebiasaan sehari-hari menjalankan kewajiban Agama menuntut keridhaan Allah. Sabar dan shalat banyak mengandung Hikmah antara lain: taat, patuh, setia, bertanggung jawab, menepati janji, menghargai waktu, jujur, bertaqwa kepada Allah. Sifat-sifat seperti itu adalah sifat-sifat yang terpuji dan apabila sifat-sifat itu menjadi kebiasaan dalam melakukan tugas-tugas kewajiban dalam pembangunan duniawi, maka akan sangat berguna dipakai dalam membina manusia pembangunan dalam hal mana pembangunan akan lebih sukses.

c. Sabar dalam beberapa bagian:

Menurut ajaran shufi, maka “sabar” itu terbagi menurut hukum yaitu:

1) Sabar yang dilakukan untuk menjauhkan diri daripada segala haram, hukumnya “wajib”.

2) Sabar yang dilakukan untuk menjauhkan diri dari segala pekerjaan makruh hukumnya “sunat”.

3) Sabar dalam menjalankan hukuman karena pelanggaran maka itu harus hukumnya,

4) Sabar membela kehormatan atau hak milik, maka itu hukumnya haram. Jadi sifat sabar dalam keadaan seperti ini dinamakan “sabar sajah” sabar berani.

Itulah namanya “sabar” menjalankan dan mentaati Hukum Tuhan, seperti berjuang atas jalan Allah.

Mati dalam perjuangan itu adalah mati sahid. Berjuang untuk mempertahankan kesucian Agama Allah, kemerdekaan Tuhan air, keselamatan diri dan keluarga keamanan harta milik, melawan musuh, memberantas kezaliman dan lain-lain yang bersifat amar ma’ruf nahi munkar. Melakukan sabar pada ketika itu dinamakan sabar berani. Sifat sabar dalam keadaan seperti itu semakin tambah berat dan sulit, tetapi mulia.

Khalid bin Walid (Panglima Perang Muslim) di zaman Nabi berkata, “Hai keluarga Islam, sabar itu kelmuliaan. Kalah itu kehinaan. Kemenangan adalah kesabaran”. Maka itulah sebabnya Allah menganjurkan kesabaran kepada orang-orang Islam dimana Firman Allah dalam Qur’an (S. Al-Anfaal 46):

“Bersabarlah kamu sekalian, sesungguhnya Allah beserta mereka yang sabar”.

Maka didalam menghadapi kesulitan apapun juga, maka satu-satunya kekuatan yang dapat bertahan ialah “sabar”. Demikian Allah telah memberikan jaminan untuk bersama-sama orang yang sabar, baik di dunia terlebih-lebih di akhirat nanti, Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar akan kemuliaan. Firman Allah dalam Qur’an (S. Al-Furqan ayat 75)

Arab

“Mereka itu orang yang dikaruniai Allah dengan martabat yang mulia dalam syurga karena kesabarannya dan mereka diberikan sambutan penghormatan dan ucapan selamat memasuki Syurga”.Demikian Pengertian Definisi Perincian Sabar Dalam Terminologi Qur'an semoga bermanfaat
[baca selengkapnya..]

Tujuan Hidup Manusia

Dalam menjalani hidup kita sebagai manusia memiliki tujuan tentunya baik dalam hal dunia ataupun akhirat
Tujuan kita hidup di dunia tentunya meraih kesuksesan dan kebahagian, hal ini memang paling mudah kita ucapkan dan kita khayalkan namun ketika kita menjalaninya sangatlah penuh dengan hambatan atau sandungan, hal ini bisa kita atasi dengan sabar dan tawakal terhadap allah Swt.
makna sabar dalam kontek ini bukan berarti menerima terhadap apa yang kita rasakan dalam segi kesulitan dan perjuangan namun tentunya kita senan tiasa berusaha meraihnya tanpa putus asa.
sedangkan tujuan kita di  dalam meraih kebahagiaan yang hakiki yaitu akhirat ini tak jauh beda, perbedaannya dalam segi hasil untuk kehidupan dunia bisa lngsung kita rasakan sedangkan untuk akhirat bagaikan kita berivestasi jangka panjang di mana akan kita rasakan setelah datang waktunya

[baca selengkapnya..]

Cara Taubat Artikel Bahan Pidato Ceramah Singkat

Pada kesempatan ini kami akan menguraikan sekelumit tentang cara bertaubat sebagai bahan artikel ataupun sebagai bahan pidato dan ceramah singkat. Setelah membaca ulasan cara taubat yang benar silahkan pembaca mengembangkannya sendiri.

Banyak orang berfikir bahwa taubat itu mudah di lakukan namun sebenarnya itu sangat sulit karna kita hanya bisa berharap bahwa allah SWT akan memaafkan segala bentuk kesalah yang kita lakukan namun`Allah punya kewenangan tersendiri untuk menerima taubat kita semua....

Cara taubat yang benar serta syarat yang harus dipenuhi berdasarkan ajaran agama Islam adalah sebagai berikut:
1. Ikla : mencopot atau meninggalkan perbuatan dosa yang pernah atau sering kita lakukan Meninggalkan setiap apa yang dibenci dan diharamkan oleh Allah lahir dan batin, lantas beralih kepada yang dicintai dan diridhaiNya.
2. Nadham : Menyedari besarnya dosa yang dilakukan sehingga menyesalinya(nelangsa) dan takut akan balasannya yang akan tertimpa diakhirat kelak jika tidak bertaubat, sebagaimana sabda Rasullullah saw : “Menyesali (dosa) itu adalah taubat”. (Riwayat Ahmad dan Ibn Majah)
3. A’zam : Berniat serta berusaha sedaya upaya menjauhi dan meninggalkan dosa yang telah dilakukan dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi.

Bertaubat lah dengan taubatan nasuha sebagaimana firman Allah : “Wahai orang-orang Yang beriman! bertaubatlah kamu kepada Allah Dengan taubat Nasuha, Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke Dalam syurga Yang mengalir di bawahnya beberapa sungai” (At-Tahrim : 8)

Apa dan bagaimana Hukum Taubat ?
Hukum bertaubat adalah wajib kepada semua umat Islam untuk memohon keampunan kepada Allah atas segala kesalahan yang dilakukan. Firman Allah yang bermaksud :
“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31)
Sabda Rasulullah saw yang bermaksud :
“Wahai sekalian manusia bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (Riwayat Al-Bukhari)

Apabila taubat sudah di lakukan kita hanyalah bisa berusaha memberikan yang terbaik dalam melangkah, manfaatkanlah waktu mu yang ada sebelum waktu itu meninggalkan mu, gunakan sehatmu sebelum sakit menghampiri mu, gunakan harta mu sebelum hartamu hilang
Demikian uraian singkat semoga bermanfaat buat para pembaca sekalian
Terimakasih
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Namun dalam hal berpenampilan ketika berpidato atau ceramah di depan umum, jangan lupa mengenakan model pakaian pria terbaru agar lebih berwibawa.
[baca selengkapnya..]

Efficacy Beans

Beans are very loved by the people of the archipelago as a crunchy snack that is nutritious. Especially when watching a football game on TV or hanging out with friends. The atmosphere will be more festive with the presence of the crunchy peanuts!

You know nuts are packed with a variety of important nutrients, such as protein, fiber, B vitamins, iron, potassium, and low in fat.
So, what are the health benefits of nuts to improve? Peek interestingly review below

Health Benefits: Beans can prevent heart disease
Research has shown that people who eat more nuts have a lower risk of heart disease because they contain phytochemicals that function as antioxidants and heart-protective.

Health Benefits : Beans can fight cancerNuts have anti -oxidants to cut various free radicals that are harmful to health . No exception , trigger cancer . Nuts can fight cancer , especially armed with the content of isoflavones and phytosterols which may reduce the risk of cancer .

Investigate a investigate , there are always two sides to everything. Including nuts , if you overdo the eating peanuts , quoted from Reader 's Digest , nuts may improve blood pressure for people with hypertension , especially if consumed in excess . However , it can still be overcome by choosing to avoid fava beans because it can interact with drugs that increase blood pressure .

Not enough of it , some legumes, such as soy beans , if taken out of balance can produce substances that interfere with the absorption of beta-carotene and vitamins B12 and D. One of the cooking temperature is too hot or too also affect the nutritional quality of beans .

To be able to eat peanuts and get balanced nutrition , do not forget to eat plenty of fresh fruits and vegetables yellow ( beta-carotene ) or dark green and lean meat ( vitamin B12 ) . Well , so baseball patient ya , eager to enjoy the delicious nuts !
[baca selengkapnya..]

Tahalli

(Mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji)
Firman Allah dalam Qur’an (S. An-Nahl 90)
“Bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil, berbuat kebajikan, hidup kekeluargaan. Dan melarang kekejian, kemungkaran dan bermusuhan. Bahwa Tuhan mengajarkan kepada kamu sekalian [pokok-pokok akhlak itu] agar kamu sekalian menjadi perhatian”.
1. Pokok-pokok dasar Perbaikan Akhlak:
Dalam rangka mengatur tata kehidupan dan penghidupan manusia, Allah telah meletakkan dasar-dasar pokok untuk perbaikan akhlak. Maka apabila manusia dibina atas dasr-dasar pokok tersebut, maka dapatlah diharapkan terciptanya manusia pembangunan sebagai tenaga pendorong bagi pembangunan.
Manusia sebagai anggauta masyarakat, sendiri-sendiri atau bersama-sama merupakan suatu kekuatan yang pokok. Itulah sebabnya Nabi kita dalam melalui pembangunan Islam yang telah menggemparkan dunia, pertama-tama Nabi terlebih dahulu membangun mental manusia agar manusia itu menjadi tenaga kekuatan pokok dan tenaga pendorong bagi pembangunan. Apabila tidak demikian, maka kekuatan manusia bisa menjadi kekuatan untuk alat penghancur dn kekuatan sifat partisipasi menjadi sifat masa bodoh. Dengan demikian maka dapatlah dimengaerti bahwa pokok-pokok dasar yang diletakkan oleh Islam dalam mengatur kota tata kehidupan dan penghidupan manusia selalu menghendaki kemajuan.
Tetapi agar tujuan pembangunan dan kemajuan itu tidak disalah gunakan oleh orang-orang yang hatinya kotor atau gelap, dalam penggunaan mana jangan sampai mengarah kepada pembangunan kebendaan melulu yang dapat menimbulkan hidup berlebih-lebihan, rebutan rezeki, kedudukan, pengaruh dan kekuasaan.
Maka oleh karena itu, kaum shufi mengatur suatu ajaran untuk memperbaiki tata kehidupan dan penghidupan manusia, agar manusia itu menjadi “manusia wara” yang ikhlas dalam beribadat kepada Allah ikhlas dalam pengabdian melayani masyarakat dan damai/berpartisipasi dalam kehidupan. Ajaran itu menurut istilah shufi dinamakan: Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Sistim ajaran ini, memerlukan latihan-latihan dan perjuangan dengan tanjakan-tanjakan dari satu tingkat ke tingkat lebih tinggi yakni: dari mensuci bersihkan hati ke tingkat menyinari hati sampai pendekatan diri kepada Tuhan dalam keadaan Tajalli.
2. Sifat yang menyinari Jiwa/Hati:
Setelah manusia itu telah membersihkan hati, harus dibarengi pula penyinaran hati agar hati yang kotor dan gelap itu menjadi bersih dan terang karena hati yang demikian itulah yang dapat menerima pancaran Nur cahaya Tuhan. Sifat-sifat yang menyinari hati itu, oleh kaum Shufi dinamakan sifat-sifat yang terpuji. Menurut al-Ghazali dalam Kitabnya “Kitab Arbain fi Usulid-Din” maka sifat-sifat yang terpuji itu antara lain ialah: TAUBAT/menyesali diri dari perbuatan tercela.
KHAUF/TAKWA, perasaan takut kepada Allah, IKHLAS/niat dan amal yang tulus dan suci. SYUKUR/bersenang diri menerima keputusan Tuhan. TAWAKKAL/menggantungkan diri, nasib kepada Allah. MAHABBAH/perasaan cinta kepada Allah semata-mata. ZIKRULMAUT/ selalu ingat akan mati.
Maka apabila manusia telah menaungi dan mengisi hatinya setelah dibersihkan, dengan sifat-sifat terpuji itu maka hati manusia itu menjadilah cerah dan terang dan hati itu dapat pula menerima cahaya dari sifat-sifat yang terpuji itu tadi. Hati yang belum dibersihkan, tak akan dapat menerima cahaya dari sifat-sifat terpuji itu.
Dalam pada ini, manusia dapat menjelma menjadi “manusia Wara” yang syuci dan ikhlas hati dan niatnya dalam melakukan ibadat kepada Allah, ikhlas dalam mengabdi melayani masyarakat (tanpa uang semir), ikhlas bekerja untuk kepentingan agama, bangsa dan Negara. Ikhlas berbuat baik, ikhlas memberikan pertolongan dan bantuan. Ikhlas memelihara keluarga, anak, istri. Seluruh hidupnya diikhlaskan dan direlakan untuk Allah. Manusia yang seperti itulah dapat mendekatkan diri kepada Allah.
3. Mendekatkan diri kepada Allah:
Dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah itu perlu dengan tanjakan-tanjakan dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi seperti yang lazim dikerjakan oleh kaum shufi yang merupakan kesempurnaan Agama Islam. Kesempurnaan Agama Islam itu dicapai dalam 4 tingkat.
1. Syariat
Mengerjakan syariat itu diartikan sebagai mengerjakan amal badaniyah daripada segala hukum-hukum: shalat, puasa, zakat dan haji. Tugasnya bahwa syariat itu ialah peraturan-peraturan yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah. Sebagai dasar pegangan, Qur’an menyebutkan (S. Al-Maidah 48).
Yang maksudnya:
“bahwa Allah menjadikan syariat untuk tiap-tiap ummat dan jalan melaksakannya”.
Dalam syariat, apabila seseorang mengerjakan shalat dan sudah ada wudlu, telah menghadap ke Kiblat, ber-Takbiratul Ihram, membaca Fatihah, Rukuk dan Sujud dan sampai dengan Taslim, seseorang itu oleh syariat sudah dianggap shalatnya telah sempurna. Tujuan utama syariat itu ialah membangun kehidupan manusia atas dasar amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Syariat membagi ma’ruf dalam 3 kategori:
1. Fardhu atau wajib
2. Sunnat atau mustajab
3. Mubah atau harus
Selanjutnya Syariat membagi munkarat atas 2 kategori:
1. Haram
2. Makruh
Petunjuk-petunjuk tersebut diatas memberi pegangan yang kuat bagi setiap manusia untuk dapat pengertian dalam membedakan: mana yang baik dan mana yang buruk, mana benar dan mana yang salah. Petunjuk-petunjuk itu mengikat manusia sebagai kewajiban morel dalam segala sikap hidupnya.
Dalam mengerjakan wajib, sunnat, kebaikan, kebenaran dianggap sebagai suatu kewajiban morel untuk mengerjakannya yang kelak akan mendapat pahala dan balasannya ialah syurga.
Dalam mengerjakan haram, makruh, kemaksiatan atau kejahatan, semuanya itu dipandang sebagai dosa dan balasannya ialah Neraka.
Peraturan-peraturan yang diatur oleh syariat seperti tersebut diatas adalah atas dasar Qur’an dan sunnah yang merupakan sumber-sumber hukum dalam Islam untuk keselamatan manusia. Tetapi menurut ahli Shufi bahwa syariat itu baru merupakan tingkat pertama dalam menuju jalan kepada Tuhan.
Sebagaimana Ilmu Tasawwuf menerangkan bahwa syariat itu hanya berupa peraturan-peraturan belaka. Tarekatlah yang merupakan perbuatan untuk melaksanakan syariat itu. Apabila “syariat” dan “tarekat” itu sudah dapat dikuasai maka lahirlah “hakekat” yang tidak lain daripada perbaikan keadaan dan ahwal, sedang tujuan terakhir ialah “Ma’rifat” yaitu mengenal Tuhan yang sebenar-benarnya, serta mencintai sebaik-baiknya. Syariat ialah pengenalan jenis perintah dan hakekat ialah pengenalan pemberi perintah. Demikianlah, maka benar sekali apa yang diterangkan oleh Ghazali : “Merupakan jalan ini (mendekatkan diri kepada Allah) memerlukan tanjakan-tanjakan bathin. Hal ini perlu mengosongkan bathin manusia dan kemudian mengisinya dengan zikir/ingat kepada Allah. Penanjakan-penanjakan itu dimulai dari satu tingkat demi tingkat.
Tingkat ke II : Tarekat.
Dasar-dasar pokok mengenai Tarekat antara lain:
1. Sebuah Hadits Qudsi yang menyatakan: “Adalah aku suatu pembendaharaan yang tersembunyi, maka inginlah aku supaya diketahui siapa Aku, maka kujadikanlah makhluk: Maka dengan Allah mereka mengenal Aku”.
Dalam pada ini, menurut aliran Tarekat ini bahwa Allah itu adalah permulaan kejadian yang awalnya tidak ada permulaan. Allah saja telah ada dan tidak ada yang lain sertanya. Dan ingin supaya zatnya dilihat pada sesuatu yang bukan zatnya, sebab itulah dijadikan segenap kejadian (al-Khalik). Maka adalah Alam ini laksana kaca yang terang benderang yang disana dapat dilihat zat Allah. Itulah dasar “Widhatul Wujud” yang menjadi faham ahli-ahli Tarekat.
Selanjutnya mereka berpendapat: bahwa kehidupan dan Alam penuhlah dengan rahasia-rahasia tersembunyi. Rahasia-rahasia itu tertutup oleh dinding. Diantara dinding itu ialah hawa nafsu kita sendiri. Tetapi rahasia itu mungkin terbuka dan dinding (hijab) itu mungkin tersimbah dan kita dapat melihat atau merasai atau berhubungan langsung dengan yang ter-rahasia, asal kita sudi menempuh jalannya.
Jalan itulah yang mereka namakan: “TAREKAT”
2. Dan menurut Firman Allah dalam QS. Al-jin ayat 16
“Dan bahwa jika mereka tetap [istiqamah] menempuh jalan itu “TAREKAT” sesungguhnya akan kami beri rezeki/ rahmat yang berlimpah-limpah”.
Maka adapun “tarekat” ialah suatu sistim (tariqah) untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan merasakan adanya Tuhan, dalam keadaan mana seseorang dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya (ainul bashirah). Yang demikian ini didasarkan pada pertanyaan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah :
“Manakah Tarekat yang sedekat-dekatnya mencapai Tuhan? Yang dijawab oleh Rasulullah, “tidak lain daripada zikir kepada Allah”.
Sebagaimana diuraikan tadi, bahwa dalam menempuh jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan memerlukan tanjakan-tanjakan dari satu tingkat demi tingkat maka apabila “syariat” mewajibkan seseorang menghadap ke Kiblat dalam shalat, maka “tarekat” tidak sampai disitu saja. Tetapi tarekat berpegang kepada ayat Qur’an dimana Allah berfirman:
“Sembahlah Aku”. Dalam pada ini “Agama” dalam menempatkan taqwa dalam dua fungsi.
Yang berarti bahwa semua ibadah yang dilakukan itu benar-benar bertujuan untuk bertaqwa kepada Allah. Tetapi bukan berTaqwa dalam pengertian “syariat” saja. Yaitu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhkan diri daripada semua larangannya.
Tidak sampai disitu saja, karena kalau demikian, seolah-olah agama itu hanya berfungsi sebagai hukum saja dimana kita berTaqwa karena takut perintah Allah juga perlu lebih meningkatkan lagi sampai ke tingkat “taqwa” dimana rasa Ketuhanan benar-benar berfungsi dalam bathin kita yang oleh Ahli-ahli Tarekat dijelaskan sebagai berikut: bahwa Taqwa itu ialah perpaduan daripada empat sifat yang dirumuskan dalam “taqwa” yakni (ta); Taubat, (qaf)Qinaah atau khusu’, (wauw); yaitu wara atau ikhlas (alif); Ikhlas melakukan ibadat semata-mata menuntut keridhaan Tuhan. Dalam pada ini, maka jelaslah bahwa untuk menempuh jalan kearah mendekatkan diri kepada Tuhan, memerlukan tanjakan-tanjakan bathin dari setingkat demi setingkat. Alhasil, Tarekat itu adalah latihan-latihan untuk menempatkan diri dari setingkat ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih dekat kepada Tuhan.
Tingkat ke III: Hakekat
Tarekat dan Hakekat adalah sambung menyambung antara satu sama lain. Oleh karena itu pelaksanaan Agama Islam, tidak sempurna jika tidak dikerjakan keempat-empatnya, yakni Syariat, Tarekat, Hakekat dan Ma’rifat. Maka apabila syariat merupakan peraturan, Tarekat merupan pelaksanaan, maka Hakekat merupakan tujuan pokok yakni pengenalan Tuhan yang sebenar-benarnya.
Umpamanya dalam soal bersuci menurut syariat barsih diri dengan air. Menurut Tarekat bersih diri lahir dan bathin dari hawa nafsu.
Menurut Hakekat bersih hati dari selain Allah. Semuanya itu untuk mencapai Ma’rifat terhadap Allah. Dengan contoh lain dapat kita sebutkan: Menurut syariat, bila seseorang bershalat wajib menghadap ke kiblat, karena ayat Qur’an menyebutkan: “Hadapkanlah mukamu ke Mesjidil Haram (Ka’bah) di Mekkah.
Menurut Tarekat, hati wajib mengahadap kepada Allah berdasarkan ayat Qur’an yang menyebutkan: “Fa’buduny – Sembahlah Aku”.
Menurut Hakekat, bahwa kita menyembah Tuhan seolah-olah Tuhan itu terlihat, berdasarkan Hadits: “sembahlah Tuhanmu, seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya, maka bahwa sesungguhnya Tuhan melihat kamu”. Selanjutnya menurut Ma’rifat ialah mengenal Allah untuk siapa dipersembahkan segala amal ibadat itu yang dengan khusu’ seseorang hamba dalam shalat merasa berhadapan dengan Allah, ketika ini perasaan bermusyahadah berintai-intaian dan bercakap-cakap dengan Tuhan seolah-olah Allah berkata: “Innany Ana Allah” Engkaulah Allah. Lalu Allah berkata lagi “Iqimis-shalata lizikry”. Bershalatlah untuk mengingat akan Aku.
Karena itu seseorang yang dalam bershalat, tidak ada sama sekali kehadiran hatinya kepada Allah, maka oleh Ahli-ahli Tarekat dengan dianggap shalatnya itu tidak syah.
Demikianlah apa yang dikatakan “hakekat” ialah membuka kesempatan bagaimana salik mencapai maksudnya, yaitu mengenal Tuhan, Ma’rifatullah dan Musyahadah Nur yang Tajalli. Dalam pada ini Ghazali menerangkan: bahwa Tajalli itu ialah terbuka Nur cahaya yang ghaib bagi hati seseorang dan sangat mungkin bahwa yang dimaksudkan dengan Tajalli ialah Mutajalli yang tidak lain daripada itulah Allah.
Tingkat ke IV: Ma’rifat.
Sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa “Ma’rifat” itu merupakan tujuan pokok, yakni: mengenal Allah yang sebenar-benarnya. Bahwa Ma’rifat mempunyai persambungan langsung antara Hakekat.
Taftazany menerangkan dalam kitab “Syarhul Maqasid” : “Apabila seseorang telah mencapai Tujuan terakhir dalam pekerjaan suluknya-ilalladan fillah, pasti ia akan tenggelam dalam lautan Tauhid dan irfan sehingga zatnya selalu dalam pengawasan zat Tuhan dan sifatnya selalu dalam pengawasab sifat Tuhan. Ketika itu orang tersebut fana dan lenyap dalam suatu keadaan “masiwallah” apa yang bersifat bukan Allah. Ia tidakmelihat dalam wujud alam ini kecuali Allah.
Dalam pada ini Ghazali menerangkan, ketika orang mengira bahwa Ghazali telah wusul – mencapai tujuannya yang terakhir ke derajat yang begitu dekat kepada Tuhan, maka Ghazali berkata; “barang siapa mengalaminya, hanya akan dapat mengatakan bahwa itu, suatu hal yang tak dapat diterangkan, indah, utama dan jangan lagi bertanya”. Selanjutnya Ghazali menerangkan: “bahwa hatilah yang dapat mencapai hakekat sebagaimana yang tertulis pada Lauhin Mahfud, yaitu hati yang sudah bersih dan murni. Alhasil, tempat untuk melihat dan Ma’rifat Allah ialah “hati”.
[baca selengkapnya..]

Membina Pribadi Sukses

Penjelasan pada renungkan kali ini akan membahas tentang bagaimana membina pribadi sukses agar apa yang dinginkan serta dicita-citakan dapat terealisasi dengan baik dan segera. Langkah awal memulainya tiada lain dengan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang teguh dan kuat baik mental maupun spiritual. 

Untuk itu cara MEMBINA PRIBADI akan diawali dengan membahas tentang pentingnya PERBAIKAN AKHLAK terlebih dahulu sebelum mendeskripsikan tentang apa ciri-ciri utama pribadi sukses itu ?

Dalam usaha menyingkap tabir/hijab yang membatasi diri dengan Tuhan, oleh Kaum Dhufi/Tasawwuf telah membuat suatu sistim yang dinamakan: Takhalli, Tahalli, Tajalli (yang nanti akan diterangkan) sistim mana dipakai dalam Riadhah/latihan-latihan dan mujahadah/berjuang untuk mensuci bersihkan diri dari segala sifat-sifat yang tercela dan menghiasinya/membina diri dengan segala sifat-sifat yang terpuji dalam rangka mencapai “maqam” yang lebih tinggi, dengan kata lain memperbaiki Akhlak. Dalam buku Kimyaus-Saadah al-Ghazali berkata, “bahwa tujuan perbaikan akhlak itu ialah untuk membersihkan qalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsudan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan”.

Dinding/hijab yang membatasi diri dengan Tuhan ialah hawa nafsu kita sendiri. Dalam usaha menghilngkan hijab/dinding itu, kaum shufi mengadakan latihan-latihan dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi yang pada akhirnya dapat mempersatukan dirinya dengan Tuhan. Firman Allah dalam Qur’an (S. Al0Kahfi 110).

“Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh [memperbaiki akhlak] dan janganlah ia mempersekutukan apapun dalam beribadat kepada Tuhan [bersih dari segala kotoran-kotoran hawa nafsu]”.

Maka untuk mencapai tujuan “Liqa” itu membutuhkan latihan-latihan dan perjuangan, perjuangan untuk mensuci bersihkan diri, perjuangan memperbaiki akhlak secara terus menerus dan dalam menyembah Tuhan terus menerus sampai akhir hayat.

Firman Allah dalam Qur’an (S. Al-Hijr 99):
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”.

Maka yang dapat menghayati kita dalam pekerjaan-pekerjaan seperti itu adalh “sabar”.

Dengan membina pribadi maka kesuksesan pun akan segera diraih, namun tentu harapan bukan hanya sekedar keinginan perlu juga ditopang dengan doa dan tentunya usaha dengan komitmen yang kuat. Anda dapat berhasil dengan tips bisnis dalam urusan segala hal baik dunia maupun akhirat.
[baca selengkapnya..]