1. Contoh Kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.
Hidup kerohanian dalam Islam :
Hidup kerohanian dalam islam adalah dimulai dari peri kehidupan Nabi Besar Muhammad s.a.w. dan sahabat-sahabatnya yang utama dan terdapat pula dalam kehidupan para Nabi-Nabi yang terdahulu.
Nabi Muhammad sebelum menghadapi pekerjaan yang besar yang akan menggemparkan dunia itu, lebih dahulu beliau telah melatih dirinya dalam hidup kerohanian. Demikian juga dalam kehidupan Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan beberapa sahabat-sahabat teras lainnya.
Ummat Islam sektika permulaan berkembangnya agama Islam itu, sahabat-sahabat Nabi yang utama yang mencontoh kehidupan Nabi, telah dapat menggabungkan kehidupan lahir (duniawi) dengan hidup kerohanian di dalam hidup sehari-hari. Meskipun mereka menjadi Khalifah yang utama seperti Abubakar, Umar, Usman, Ali dimana segala warna kehidupan itu telah mereka pandangi dari hidup kerohanian, Hidup yang ditegakkan atas kemurnian jiwa dan kebersihan hati, memperkuat Iman, keyakinan dan kekuatan bathin.
Berkat kehidupan kerohanian kaum Muslimin di zaman Rasulullah, mereka mencontoh dari Nabi Besar Muhammad s.a.w., mereka berjuang menegakkan suatu Negara untuk ketinggian agama Allah, sampai jatuh kekuasaan lawan-lawannya ke bawah telapak kakinya, hancur singgasana Kaisar Roma, runtuh mahligai Kisra dari Persi dan terpeganglah anak kunci Barat dan Timur, kekayaan melimpah-limpah, harta benda bertimbun-timbun, namun semua itu bukanlah tujuannya, hanya barang-barang yang kebetulan bertemu di tengah-tengah jalan dalam menuju tujuan yang paling besar yaitu kepada jalan Allah.
Sebelum Nabi menyatakan dirinya sebagai pesuruh Allah, beliau bertahun-tahun pergi menyisihkan diri, samadi atau berkhalwat berhari-hari, bermalam-malaman sendirian di Gua Hira. Dalam halwat beliau duduk tafakkur pada segala af-al Allah, berzikir terus semata-mata mengingat kepada Allah dengan ikhlas dan sempurna, sehingga biasa terputus hubungannya dengan yang lain daripada Allah.
Hidup zuhud/sederhana di anjurkan oleh Nabi Muhammad.
Cara hidup beliau adalah sederhana pakaiannya, makanannya yang sekerat roti, sebiji tamar seteguk air. Sebaliknya ibadatnya banyak, bershalat jauh malam dan kadang-kadang menangis dalam melakukan shalat, semuanya itu adalah kehidupan ideal yang amat dirindui oleh Ahli-Ahli Tasawwuf.
Pada suatu hari datanglah Jibril kepada Nabi Muhammad menyampaikan salam Tuhan dan bertanya, “Manakah engkau yang suka ua Muhammad, menjadi seorang Nabi yang kaya raya seperti Nabi sulaiman atau menjadi Nabi yang miskin seperti Nabi Ayyub?” Lalu beliau menjawab, “Aku lebih suka kenyang sehari dan lapar sehari. Jika kenyang, aku bersyukur pada Tuhan. Jika lapar, aku bersabar atas cobaan Tuhanku”.
Kehidupan yang demikianlah yang beliau anjur-anjurkan pula kepada ummatnya. Rasulullah bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, supaya Tuhan mencintaimu. Dan zuhudlah pada yang ada ditangan manusia supaya manusiapun cinta akan engkau”. (Diriwayatkan Ibnu Maja, Tabrani dan Baihaqi). Lagi pula beliau bersabda:
“Apabila Tuhan menghendaki seseorang hambanya menjadi orang baik, diberinyalah faham akan rahasia-rahasia agama, ditimbulkannya rasa zuhud terhadap dunia yang diberinya anugerah dapat memandang yang ghaib dan cela dirinya sendiri” (Baihaqi). Bilamana kita perbandingkan dengan kehidupan orang-orang zahid dan Abid, yaitu ahli-ahli Tasawwuf yang datang kemudian, dapatlah dengan mudah meneliti persamaan kehidupan mereka dengan kehidupan Nabi Muhammad dalam hidup kerohanian.
Demikian maka Imamul Alghazali berpendapat, “Bahwa aku yakin benar-benar kaum shufiyah itulah yang benar-benar telah menempuh jalan yang dicontohkan oleh Nabi dan yang dikehendaki oleh Allah-Taala.
Selanjutnya Ghazali berpendapat, “Bahwa mendekati Tuhan, merasa adanya Tuhan dan Ma’rifat Tuhan, hanya dapat dicapai dengan menempuh satu jalan, yaitu jalan yang ditempuh oleh kaum shufi”.