Manusia merasa sukar menerima keadaan-keadaan yang biasa menimpa
dirinya, seperti: kemiskinan, kerugian, kehilangan barang, pangkat, kedudukan,
kematian dan lain-lain yang dapat mengurangi kesenangannya.
Yang dapat bertahan dalam kesukaran-kesukaran seperti itu, hanyalah
orang-orang yang telah mempunyai sifat “Riadha” artinya rela menerima dengan
apa yang telah ditentukan dan ditakdirkan Tuhan kepadanya. Rela berjuang atas
jalan Allah, rela menghadapi segala kesukaran, rela membela kebenaran, rela
berkorban harta, pikiran, jiwa sekalipun, semua itu bagi kaum shufi dipandang
sebagai sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang bernilai tinggi bahkan
dianggap sebagai Ibadat semata-mata menuntut keridhaan Allah (Ibtighaa
madhatillah). Karena kerelaan mereka semata-mata karena Allah, membawa kepada
berbuat maksiat atau yang dilarang oleh Allah.
Orang-orang yang telah memiliki sifat “ridha” itu, tidak mudah
bimbang atau kecewa atas pengorbanan yang dialaminya, tidak merasa menyesal
dalam hidup kekurangan, tidak iri hati atas kelebihan-kelebihan yang telat di
dapat orang lain, karena mereka kuat berpegang kepada aqidah, iman kepada qadha
dan kadhar yang semuanya itu dari Tuhan.
Sebuah Hadits Qudsi, Nabi menceritakan :
“bahwa Tuhan berkata: Akulah Allah, tidak ada Tuhan yang sebenarnya
selain Aku, maka barang siapa tidak sabar atas cobaanku, tidak bersyukur bagi
Nikmatmu dan tidak rela terhadap kepada keputusanku, maka hendaklah ia mencari
Tuhan yang lain daripadaKu”.
Sabar, syukur dan ridha adalah tiga sifat yang terpuji yang sangat
bernilai tinggi, dapat membawa orang kepada ketinggian budi pekerti dan akhlak
dan merupakan kekuatan yang dapat menolong untuk berkemauan keras, berjiwa
besar dan bertanggung jawab. Maka oleh karena itu, orang-orang yang telah
memiliki didikan Tasawwuf dapatlah dipercaya bahwa ia tidak akan mensalah
gunakan nikmat dan amanat Allah yang dipercayakan kepadanya. Dan oleh karena
itu secara pikiran yang sehat tidaklah masuk akal kalau kaum-kaum Tasawwuf itu
di anggap sebagai orang yang sesat, pandir atau sebagai orang hanya tinggal
berdo’a saja, tak punya ikhtiar atau apatis dan lain sifat-sifat yang rendah
budi sebagaimana ejekan-ejekan atau kecaman-kecaman yang terdengar dari
pihak-pihak yang menentang Ilmu Tasawwuf. Sebagaimana ajaran Tasawwuf ialah
mendidik seseorang, pertama-tama dengan kebaikan Akhlak dengan lebih dahulu
membekali murid-muridnya setingkat ke tingkat yang lebih tinggi, dari Muslim
biasa ke tingkat Mukminin, naik ke tingkat Muhsinin, ke tingkat Muttaqin ke
tingkat Mukarrabin, ke tingkat arifin mengenal dan merasai Tuhan yang
sungguh-sungguh. Dengan sifat-sifat yang terperinci itu, mereka memasuki
latihan-latihan jiwa dan mujahadah dengan suatu sistim yang diinamakan:
Takhalli, mensuci bersihkan diri dari segala dosa lahir dan dosa bathin.
Tahalli, yang berarti mengisi diri dengan segala sifat-sifat yang terpuji.
Tajalli, memperoleh hakekat kenyataan Tuhan karena suci bersihnya hati mereka
mencintai Tuhannya. Zinnun seorang ahli Tasawwuf yang ternama mengatakan:
“Manlam Yasuk Lam Ya’rif”. Barang siapa yang belum merasakan, maka ia belum
mengetahuinya”.